Rabu, 17 Februari 2016

Masa SMP, Masa yang Menyenangkan dan Menantang

Aku udah sekolah di Putra Bangsa sejak aku TK. Menurutku, sekolah Putra Bangsa sungguh luar biasa. Mengapa? Mereka mau menerima seorang tunanetra ke dalam lingkungan mereka, meskipun Putra Bangsa adalah sekolah baru dan “belum berpengalaman”. Guru2 dan temen2 juga bisa menerima aku dengan baik. Beruntunglah aku bisa masuk sekolah ini.

Masa SMP adalah masa yang menyenangkan dan menantang. Memang benar. Waktu TK, aku merasa masih sangat polos (seperti anak2 lainnya). Waktu SD, hidup menjadi agak lebih sulit, tapi tidak sesulit SMP. Mungkin waktu SMA, kuliah, sama kerja akan lebih sulit lagi, tapi aku belum mengalaminya.

Waktu pertama kali masuk SMP, belum banyak keseruan yang terjadi. Baru kenalan sama yang namanya SMP. Suasananya emang beda dari SD. Pelajaran lebih susah, tugas lebih banyak, kegiatan lebih banyak. Tapi gurunya tetep sama (tetep sama orangnya).

Temen2nya juga hampir sama. Ada yang ngilang, tapi tetep ketambahan temen baru. Jumlahnya? Tetep sama.

Nah, yang mau aku ceritain di post ini adalah waktu aku kelas 8. Menurutku, kelas 8 adalah tahun yang paling menantang, melelahkan, dan paling penuh kegiatan.

Sejak kelas 7, aku sudah memilih ekskul elektronika. Di kelas 8, aku memutuskan untuk milih elektronika lagi. Ekskul elektronika diadakan di hari Senin jam 2 sampai setengah 4.

Di tahun itu, ada ekskul baru: KIR. Aku agak tertarik, jadi aku nyoba.

‘Paling cuman eksperimen-eksperimen,’ pikirku waktu itu. Tapi, ternyata KIR itu lebih dari percobaan dan eksperimen. Aku juga harus mbuat laporan dan makalah. Nambah tugas...tapi udah terlanjur kepilih. KIR itu diadakan di hari Selasa jam 2 sampai setengah 4, kadang molor.

Aku juga ikut ekskul pramuka, band, sama renang. Pramuka dan band sama-sama diadakan di hari Jumat (pramuka jam 1 sampai setengah 3, band jam 5 sampai 7). Renang diadakan di hari Sabtu jam 7 sampai 8.

Jadi, aku itu murid paling sibuk di kelas 8. Temen yg lain paling cuman ikut 3 apa 4 ekskul, aku ikut 5, dan itu setiap hari. Aku juga masih les, ngerjain PR, dan sebagainya. Huh!

Di tahun itu juga, ada banyak lomba yang aku ikuti. Pertama, lomba jurnalistik (Juli – September 2014). Aku berperan sebagai editor, karena dari semua anggota redaksi, aku yg paling mudeng bahasa dan EYD (bukan bermaksud sombong...). Aku jadi punya banyak job. Tapi ya...aku udah terlanjur milih. Ya udah, jalanin aja. Akhirnya, majalahnya jadi, tapi gk menang.

Kedua, Pekan Ilmiah Fisika (PIF) di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Aku ikut itu karena aku emang suka pelajaran fisika. Babak penyisihan diadakan di hari Minggu, 28 September 2014. Ketentuan buat masuk final: setiap daerah (ada 10 daerah) bakal diambil 2 peserta dengan nilai tertinggi. Lucunya, daerah tempatku lomba (Jogja) cuman ada 2 peserta, yaitu aku sama temenku dari PB. Jadi, aku otomatis lolos tanpa harus ngerjain serius... hehehe...

Semifinalnya diadakan di hari Minggu, 9 November 2014, di Semarang. Ketentuan untuk masuk final adalah 6 peserta dengan nilai tertinggi. Aku belum beruntung waktu itu, tapi aku dapet pengalaman baru.

Itu semua terjadi di semester 1. Libur tahun baru aku gunakan untuk istirahat total. Aku masih harus menghadapi semester 2...

Di semester 2, pelajaran semakin sulit dan tugas semakin banyak. Tidak hanya waktu pelajaran, tapi juga waktu ekskul, terutama KIR. Percobaannya banyak, makalahnya juga ikut banyak. Aku pernah mikir buat keluar dari KIR di semester 2. Aku emang agak ceroboh waktu semester 1. Kenapa aku milih ekskul banyak-banyak? Tapi ya...udah terlanjur kepilih. Harus dijalani.

‘Satu semester lagi.... ayo, dipaksain,’ pikirku. Akhirnya, aku tetep ikut ekskul yang udah kupilih.

Lomba ketiga yang kuikuti tahun itu adalah festival band. Jadi ekskul band tidak hanya untuk ekskul dalam sekolah saja, tapi juga untuk perform di luar sekolah. Sebelum festival ini, bandku udah perform di beberapa tempat, seperti di acara ultah Candi Sewu dan acara kenaikan tingkat di Voca Music Course. Kerja kerasku dan temen2 latihan habis pramuka akhirnya membuahkan hasil. Aku dan temen2 dapet juara 2 festival band se-Klaten.

Setelah itu ada lomba cerdas cermat (LCC), tapi aku nggak sendirian. Aku ditemani sama 2 temenku (setiap kelompok ada 3 murid). Tahap tertulis bisa kami lewati dengan mudah. Waktu tahap LCC, ada kejadian yang bisa dibilang lucu dan agak nyebelin.

Waktu soal bahasa Inggris, ada soal “eight plus fifteen equals?”, artinya: delapan tambah lima belas sama dengan? Jawabannya: twenty three (dua puluh tiga). Tapi, di kunci jawabannya adalah twenty four (dua puluh empat).

Aku sama temenku kaget. Tapi, pertandingan harus berlanjut.

Waktu nilai akhir diumumkan, kelompokku kalah 50 poin sama kelompok lain, gara-gara soal bahasa Inggris. Akhirnya, guruku protes dan kelompokku boleh masuk final.

Di babak final, kelompokku berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan baik. Akhirnya, kelompokku mewakili Klaten di tingkat provinsi. Tingkat provinsi bakal diadakan di Bulan Agustus (waktu aku sama temen2 udah kelas 9).

Setelah itu ada OSN. Aku ikut OSN bidang matematika. Aku udah pernah ikut OSN waktu SD. Waktu SD, format lombanya adalah LCC. Namun, tahun ini, format lombanya berubah menjadi olimpiade (jadi aku anak pertama yang ikut format ini).

Olimpiade tingkat kabupaten diadakan di SLB YAAT Klaten. Aku berhasil lanjut ke tingkat provinsi dengan mudah.

Olimpiade tingkat provinsi diadakan di Asrama Haji Donohudan, Solo. Seperti yang sudah diduga, aku bisa lanjut ke tingkat nasional, dengan usaha dan keberuntungan yang besar.

Sebelum tingkat nasional, aku dikarantina di Semarang. Tempatnya lumayan enak. Ada AC, TV, kamar mandi, kasur... (pastilah!). aku di sana ditemani salah satu guruku. Aku dikarantina selama 1 minggu, dalam satu hari aku belajar matematika (saja!) selama kurang lebih 10 jam, tapi aku sudah biasa. Waktu SD dulu, aku juga dikarantina, tapi selama 3 minggu, dibagi menjadi 3 periode. Jadi, karantina waktu SMP lebih ringan daripada waktu SD.

Olimpiade tingkat nasional diadakan di Jogja, deket sama Klaten. Aku berangkat dari Semarang ke Jogja tanggal 18 Mei 2015. Olimpiade ini diadakan di Sheraton Hotel Jogja.

Lombanya diadakan tanggal 20 Mei. Ada 4 tahap, yaitu pilihan ganda, isian, uraian, dan praktik. Untuk tahap tertulis, aku berhasil ngerjain soal-soalnya dengan cepat dan tepat. Untuk praktiknya, aku tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Besoknya, hasil lomba diumumkan. Aku, guruku, dan temenku lomba (sesama kontingen Jateng) udah percaya kalau Jateng bakal jadi juara umum. Dan hal itulah yang terjadi. Aku dan 3 temen lainnya mendapat medali emas, sementara 1 temen lagi mendapat medali perunggu. Ini kemenangan nasionalku yang kedua, setelah OSN SD. Tinggal besok SMA, terus koleksiku lengkap.

Di tengah-tengah karantina dan lomba itu, aku masih ngutang PR, tugas, dan ulangan sama guruku. Ada 3 atau lebih tugas, dan 3 tugas itu adalah membuat laporan/makalah! OMG! padahal deadlinenya beberapa hari setelah lomba. Aku bingung mau ngapain. Malam sebelum lomba, yang aku pikirin bukan materi buat lomba, tapi cara nyelesain tugas-tugas itu. Untungnya, gurunya berbaik hati dan ngasih toleransi waktu.

Itulah yang terjadi waktu kelas 8. Di kelas 9, ada beberapa kejadian yang terjadi, tapi aku nggak bakal nyeritain secara detail. Pokoknya, di kelas 9 ini tugasnya tidak sebanyak waktu kelas 8, tapi bebannya semakin berat. Aku harus lulus UN dengan nilai gemilang. Aku harus belajar keras.

Kesimpulan dari cerita ini: masa SMP yang kulalui ini memang menyenangkan dan menantang. Tapi, dengan bantuan dan pendampingan guru2 dan temen2 yang baik, serta usaha dan doaku sendiri, aku bisa melalui semua itu.

Dengan bersekolah di SMP Putra Bangsa, aku mendapat banyak pengalaman yang sulit dilupakan. Semoga pengalaman itu dapat bermanfaat bagi masa depanku. Semoga Sekolah Putra Bangsa, yang baru saja menginjak umur 10 tahun, dapat menjadi lebih baik lagi dan menghasilkan generasi muda yang berprestasi dan berguna untuk masyarakat. Amin.